fgVbA8pS2mAvH6shJUAkVSH4ZBAYg0maapkaFIUm

4 HAL DARI PENDIDIKAN TINGGI ETHIOPHIA INI PANTAS DIDALAMI

    4 HAL DARI PENDIDIKAN TINGGI ETHIOPHIA INI PANTAS DIDALAMI

    4 Hal dari Pendidikan Tinggi Ethiophia Ini Pantas Didalami

    Bidang pendidikan sangat diutamakan oleh Ethiophia. Beberapa mahasiswa di negara Benua Afrika ini terlatih bicara dengan bahasaInggris dan beberapa bahasa asing lain.

    Duta Besar Indonesia untuk Ethiophia Al Busyra Basnur mengutarakan, sesudah Perang Dunia II pendidikan di Ethiophia banyak dikuasai mekanisme Inggris dan Amerika Serikat. "Bahasa Inggris selanjutnya jadi pengantar dimulai dari sekolah menengah," tutur Busyra dalam video di aliran youtube B Sibling.

    Menurut petinggi kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 1960 ini, Ethiophia baru mempunyai perguruan tinggi pertama kalinya pada 1961. Sampai tahun 1985, Ethiophia cuman mempunyai 3 perguruan tinggi negeri, 16 college, dan 6 institut penelitian.

    Tetapi sekarang ini, Ethiophia sudah mempunyai 36 perguruan tinggi negeri dan 98 perguruan tinggi swasta. Dari bukti-bukti itu, Busyra menulis minimal ada empat poin penting dicatat sebagai saran untuk Indonesia.

    Pertama, banyak pimpinan dan dosen perguruan tinggi Ethiophia raih gelar akademik dari perguruan tinggi terpenting di dunia, khususnya Eropa dan AS.

    "Ke-2 , karena mahasiswa Ethiophia berbahasa Inggris dengan baik sekali, beberapa dari mereka yang bisa lolos penyeleksian dan belajar dalam luar negeri, khususnya lewat program beasiswa internasional," ungkapkan ia.

    Ke-3 , alumnus SMA yang nilainya tinggi dan meneruskan belajar dalam perguruan tinggi negeri tak perlu bayar uang kuliah sepanjang jalani pendidikan. Mahasiswa itu bisa sarana rumah dan makan gratis di asrama universitas.

    "Uang kuliah bisa dibayarkan sesudah lulus dan bekerja. Atau, bekerja di universitas di mana mereka kuliah," ungkapkan Busyra.

    Dan ke-4, menurut Busyra mahasiswa Ethiophia mempunyai networking yang paling luas, bagus di dalam rasio regional atau internasional. Jalinan itu khususnya sekali dalam soal study dan aktivitas akademik, organisasi kepemudaan, aktivitas lain di luar universitas.

    "Mereka gampang merajut komunikasi. Karena apa? Mereka berbahasa Inggris dengan baik," tutur bekas reporter ini.


    Related Posts
    Rifqi Fauzan Sholeh
    Hanya Menulis

    Related Posts

    Posting Komentar