fgVbA8pS2mAvH6shJUAkVSH4ZBAYg0maapkaFIUm

IMPLIKASI PANCASILA DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

    IMPLIKASI PANCASILA DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

    Implikasi Pancasila dalam Pendidikan Indonesia

    Fasilitas fisik di sekolah sebagai aspek khusus dalam memberikan dukungan kesuksesan proses belajar- mengajarkan. Sarana-fasilitas di sekolah digunakan untuk menolong dalam mempermudah bermacam aktivitas evaluasi yang dilaksanakan berkenaan dengan bermacam materi yang berkaitan. 

    Bahkan juga, bisa disebutkan jika makin hebat dan makin canggih sarana pendukung pendidikan, karena itu makin baik perubahan evaluasi yang didapat beberapa pelajar.

    Namun, sarana fisik di sekolah tidak bisa digunakan dengan optimal adanya keadaan wabah seperti saat saat ini. Karena itu Nadiem Makarim lewat Kemendikbud mengeluarkan program pendidikan yang diberi nama Sekolah Pendorong. Program ini tidak fokus pada pengadaan sarana fisik, tetapi pada pembimbingan dan kenaikan kualitas tenaga kerja pendidik untuk menuntun dan membina pelajarnya dengan arah bisa hasilkan siswa berlandasan kepribadian yang sesuai Profile Pancasila. 

    Menurut Nadiem, mekanisme pendidikan di Indonesia sekarang ini belum menggambarkan pembangunan watak dan kepribadian yang bagus sesuai nilai Pancasila untuk beberapa siswa, hingga diperlukan satu pengubahan yang besar untuk meraihnya.

    Dengan dimasukkan nilai-nilai Pancasila dalam arah khusus dalam mekanisme pendidikan, diinginkan bisa membuat siswa Indonesia yang berkualitas dengan berdasarkan pada kepribadian Pancasila dan mempunyai watak sesuai 6 nilai yang sudah disebut dalam program Sekolah Pendorong hingga bisa meminimalkan peluang-kemungkinan munculnya permasalahan akibatnya karena pendidikan yang cuman terdiam pada nilai akademik.

    Picuan sekolah sebagai pembentuk nilai secara angka (akademik) bisa dibuktikan tidak mangkus dalam membuat nilai kepribadian atau watak pada siswa, ditunjukkan dengan kasus kritis kepribadian yang dirasakan anak muda di angkatan milenial menurut Pusat Penerangan Sosial (PUSPENSOS).

    Disaksikan dari jumlahnya kasus kriminil, seperti tawuran, kekerasan seksual, dan penyimpangan narkotika dan beberapa obat terlarang di kelompok pelajar sekolah landasan (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) memperlihatkan jika dibutuhkan ada pengubahan dalam mekanisme pendidikan yang menuntun pelajar Indonesia ke pengubahan yang lebih bagus, hingga program Sekolah Pendorong di rasa pas untuk jadi jalan keluar dalam persoalan ini.

    Untuk capai kesuksesan program Sekolah Pendorong, Kemendikbud tidak semata-mata melaunching program selanjutnya memerintah beberapa sekolah untuk mengimplementasikannya. Akan tapi Kemendikbud akan langsung mengikuti dan membina sekolah dalam praktik penerapan program ini sepanjang tiga tahun hingga bisa dengan mangkus dan sangkil mengubah mekanisme evaluasi.

    Sumber: suara.com

    Related Posts
    Rifqi Fauzan Sholeh
    Hanya Menulis

    Related Posts

    Posting Komentar