Sejarah Wayang dalam Berdakwah dan Menjaga Kemerdekaan

Sejarah Wayang dalam Berdakwah dan Menjaga Kemerdekaan

Video Ustaz Khalid Basalamah bertema Wayang Haram memetik beragam reaksi. Video ini diupload sekitaran satu tahun lalu oleh Yarif TV. Tetapi, sekarang tidak bisa diakses.

Seperti dikabarkan oleh detikjateng, pro-kontra ini berawal saat Khalid Basalamah menjelaskan supaya beberapa dalang bertobat dan wayang bisa dihilangkan. Saat sebelum menjelaskan ini, seorang audience sampaikan jika dianya menyenangi kesenian itu dan menanyakan bagaimana bertobat dari karier dalang.

"Jika permasalahan taubat ya taubat nasuha ke Allah SWT dengan 3 persyaratan yang telah kita mengetahui, tinggalkan dosa dosa, menyesal dan janji sama Allah tidak mengulangnya dan jika ia punyai (wayang) karena itu lebih bagus dihilangkan, dalam makna kata ini lebih bagus ditiadakan," tutur Khalid.

Mencari kembali perubahan wayang, akademisi menjelaskan kesenian itu sebenarnya telah ada semenjak jaman animisme dan dinamisme.

Wayang: dari Animisme, Ceramah, sampai Menjaga Kemerdekaan

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Sugeng Nugroho sampaikan, wayang telah ada semenjak jaman prasejarah.

"Terang wayang itu telah dipakai beberapa wali untuk dakwah Islam. Walau sebetulnya wayang telah ada semenjak jaman animisme-dinamisme," ungkapkan Sugeng (14/02/2022), seperti dikabarkan oleh detikjateng.

Saat agama Hindu masuk ke Indonesia, wayang dipakai untuk menebarkan tuntunan itu karena gampang diterima. Kesenian itu juga digunakan lagi dalam periode penebaran agama Islam.

"Selanjutnya wayang dipakai untuk menebarkan agama karena gampang beradaptasi. Saat Hindu masuk, digunakan Hindu. Karena telah mengakar di hati warga Jawa, karenanya digunakan beberapa wali. Dan itu sukses," tambah Sugeng.

Pada masa Wali Songo, pada akhirnya banyak tokoh yang disamakan dengan Islam. Sebagai contoh, Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu diadaptasi jadi turunan Nabi Adam.

Ketua Dewan Kesenian Solo (DKS) Blacius Subono menjelaskan, Sunan Kalijaga sukses menebarkan Islam melalui budaya, tidak kecuali pewayangan.

"Terang dari segi sejarah kan ada sosok Sunan Kalijaga yang penebaran agamanya lewat budaya wayang. Jelas sudah sejarahnya," sebutkan Subono.

Tercatat dalam buku Mengenali Kesenian Nasional 1: Wayang kreasi Kustopo, kata wayang diambil dari bahasa Jawa wewayangan yang memiliki arti bayang-bayang.

Seirama sama yang disebutkan Dosen ISI Solo, Sugeng, wayang berakar dari keyakinan animisme dan dinamisme. Lantas pada jaman kerajaan, permulaan wayang dicatat berawal semenjak zaman Kerajaan Kediri era kesepuluh dan dibuat oleh Raja Jayabaya.

Hal tersebut bersambung saat periode Kerajaan Jenggala dan Majapahit.

Saat Kerajaan majapahit roboh, wayang sekalian gamelannya dipindahkan ke Demak. Masalahnya Sultan Demak Sah Alam Besar I benar-benar menyenangi seni karawitan dan atraksi wayang.

Pada periode ini untuk hapus kesan-kesan Hindu, karena itu gambar wayang diganti sebegitu rupa. Mukanya dibikin miring dan tangannya dibikin lebih panjang sampai capai kaki. Tokoh yang membuat sosok wayang dengan rupa semacam ini ialah Sunan Kalijaga.

Saat kepimpinan Sultan Sah Alam Besar III atau Sultan Trenggana, Sunan Giri membuat wayang Gedog yang material dasarnya dari wayang Purwa.

Selanjutnya, Sunan Kudus memutuskan wayang Gedog cuman diadakan dalam istana. Hingga, Sunan Bonang membuat wayang sendiri yang ditujukan untuk rakyat. Wayang itu ialah Damarwulan.

Lanjut ke zaman pemerintah Sri Hamangkurat IV, raja itu membuat wayang Madya. Wujud wayang Madya sisi atas serupa wayang Purwa, dan bawahnya serupa wayang Gedog.

Pendayagunaan wayang diteruskan ke jaman revolusi fisik tahun 1945-195. Kesenian pedalangan dipakai sebagai salah satunya usaha mendengungkan kemauan menjaga kemerdekaan Indonesia.

Untuk arah ini, karena itu secara eksklusif dibuat wayang Suluh. Makna kata suluh ialah obor, yaitu salah satunya alat yang umum digunakan menyinari.

Ada juga opini yang mengatakan wayang Suluh datang dari Madiun dan dibuat salah seorang karyawan pencahayaan. Karyawan itu melakukan tindakan sekalian sebagai dalang.

Pada wayang Suluh, tidak ada wujud pakemnya karena ikuti perubahan jaman. Karena, cara berbusana warga berbeda.

Dapatkan pemberitahuan informasi pendidikan terbaru setiap hari dari Rifqifauzansholeh.com. Silahkan bergabung di grup Telegram dengan menyentuh nama berikut: "Blog Rifqi Fauzan" jika sudah diarahkan silahkan klik join. Pastikan kamu sudah menginstall aplikasi Telegram di smartphone kamu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url