fgVbA8pS2mAvH6shJUAkVSH4ZBAYg0maapkaFIUm

PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

    PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

    PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

    Didalam pelaksanaan pendidikan karakter khususnya di sekolah itu ada beberapa pokok perhatian, kita harus memikirkan lebih serius tentang pelaksanaan pendidikan karakter.

    Pokok perhatian yang pertama untuk pendidikan karakter di sekolah itu adalah pertanyaan mengenai manajemen waktu dan prioritas, bagaimana kita itu mengatur waktu tentang pendidikan karakter.

    Kalau kita sudah mengajarkan sekian banyak mata pelajaran yang penting yang harus dipelajari oleh anak-anak, misalnya kita itu harus mengajarkan mengenai IPA kepada anak-anak itu kan pincang, itu adalah suatu porsi yang besar. Lalu mengajarkan matematika, ilmu sosial, keagamaan, kewarganegaraan dst.

    Nah pertanyaannya kapan kita itu akan mengajarkan pendidikan karakter? Belum lagi kita itu sedang berhadapan dengan prioritas jadi waktu kita itu memprioritaskan suatu pelajaran, biasanya kita simpan pelajaran tersebut pada waktu yang paling premium biasanya waktu pagi.

    Seringkali yang terjadi adalah pagi hari itu pas anak didik sedang segar-segarnya itu kita ajarkan pelajaran yang kita anggap paling penting, ya biasanya pelajaran matematika, IPA karena itu dianggap penting.

    Lalu bagaimana dengan mata pelajaran yang lain? Contohnya dengan pelajaran seni, musik, olahraga yang biasanya diletakan dijam 1 siang.

    Nah pertanyaannya lagi, Pendidikan Karakter mau diletakan diwaktu mana?

    Nah ini adalah mengenai manajemen waktu dan prioritas untuk pendidikan karakter di sekolah.

    Terus yang kedua, siapakah yang menjadi model? Karena pendidikan karakter tidak bisa diterapkan jika tidak ada model, harus ada modelnya, harus ada teladannya. Nah di sekolah itu siapa yang menjadi teladannya? Yang menjadi modelnya untuk karakter-karakter tertentu.

    Inilah hal-hal yang tidak gampang dipikirkan oleh sekolah, apalagi kita memikirkan pada jenjang SD, SMP, SMA dan Kuliah apalagi. Contoh sederhana saja, kalo dikuliah itu yang datang ke kelas ngajar yang profesornya atau dosennya itu cuman ngajar berapakali sih disetiap satu minggunya? Iyakan? Modelnya yang mana yang akan dilihat? Itupun profesornya atau dosennya cuman mengajarkan sesuai dengan bidangnya, tidak bicara apapun mengenai karakter.

    Seringkali yang menjadi fokus perhatian dari mahasiswa adalah skill yang memang mau diajarkan, jadi ga berhubungan dengan masalah karakter. Sekarang siapa yang menjadi modelnya untuk karakter? Nah ini pertanyaan yang perlu diselesaikan dengan serius untuk pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

    Terus yang berikutnya adalah bagaimana seorang guru dapat memberikan penilaian yang benar? Hal ini harus ada agreament di sekolah itu. Kalo kita mau memberikan nilai A misalnya nilai A itu artinya apa sih? Oh A itu artinya anak itu sudah memiliki karakter yang baik, nah itu kan general rulenya. Tapi kata baik itu harus didefinisikan baik itu apa? Misalnya secara konkritnya, ooh.. anak ini selalu menyapa ketika berpapasan dengan guru, setiap kali bertemu dengan orang lain dia selalu ramah, nah apakah hal itu menunjukan karakter yang baik?

    Maka hal ini bisa kita pikirkan dengan serius, tapi bisa dichalangge juga, misalnya ada orang yang bertanya, kalo anak tersebut menyapa orang cuman 8 kali dari 10 kali bertemu orang, anak itu bisa dikategorikan baik. Nah bagaimana kalo dia menyapa cuman 6 kali dari 10 kali? Nah itu kurang baiklah.

    Nah perbedaan antara 8 & 6 itu akan dituliskan didalam rapot bahwa karakter kita itu baik atau karakter kita itu kurang baik. Apakah hal itu akan memberikan dorongan untuk anak itu bersikap yang baik?

    Hal seperti ini itu harus dipikirkan dengan serius loh, karena ini bukan sesuatu hal yang gampang yang bisa kita anggap remeh.

    Nah yang terakhir ini adalah yang berkaitan dengan metode, waktu kita akan mengajarkan pendidikan karakter itu metodenya apa? Pendidikan karakter ini tidak akan pas jika menggunakan metode ceramah, jadi jika seorang guru menjelaskan panjang lebar mengenai pendidikan karakter kemudian diujiankan dengan sistem hapalan, metode seperti itu tidak bisa digunakan.

    Lalu dengan metode seperti apa pendidikan karakter ini diterapkan? Nah hal itulah yang harus dipikirkan serius untuk para pendidik.

    Ya mungkin Sekian dari saya Semoga satu artikel ini bisa ngebantu kamu buat belajar dan berkembang disetiap harinya Oke . . . Akhir kata saya Rifqi Fauzan saya tunggu kamu di artikel selanjutnya OK thanks...
    Related Posts
    Rifqi Fauzan Sholeh
    Hanya Menulis

    Related Posts

    Posting Komentar